6 Fakta yang Meningkatkan Risiko Nosophobia

Nosophobia

Wanita maupun pria memiliki risiko yang sama terkena noshopobia. Namun, risikonya lebih tinggi dialami oleh pengidap gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Sebab, mereka harus memiliki kendali penuh atas diri sendiri, termasuk rasa sakit.

Fakta risiko lainnya termasuk:

  1. Anak-anak yang mengalami sakit parah.
  2. Riwayat keluarga dengan penyakit keturunan.
  3. Merawat orang terdekat yang mengidap penyakit serius.
  4. Kehilangan orang yang dicintai karena penyakit kronis.
  5. Dirawat oleh orang tua dengan gangguan kecemasan atau fobia tertentu.
  6. Perubahan gen (mutasi) yang meningkatkan risiko gangguan kecemasan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pengidap nosophobia akan terlihat sering memeriksakan diri ke dokter guna mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Adapun tandanya, meliputi:

  • Menghindari orang atau tempat yang berpotensi menularkan penyakit.
  • Terus-menerus meneliti penyakit tertentu dan gejalanya.
  • Mengalami kecemasan ekstrim akan kesehatan diri sendiri.
  • Terobsesi dengan fungsi tubuh normal, seperti detak jantung dan pernapasan.
  • Mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan.
  • Berbagi gejala dan status kesehatan secara berlebihan dengan orang lain.
  • Berulang kali memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti mengukur tekanan darah atau suhu tubuh.

Adapun langkah pengobatannya, antara lain:

  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Langkah ini dilakukan guna membantu pengidap dalam mengatasi gejala yang dialami secara mandiri. CBT mengusung konsep bahwa pikiran, perasaan, sensasi fisik dan tindakan saling berkaitan serta memengaruhi satu sama lain.
  • Terapi paparan. Langkah ini merupakan perawatan psikologis yang dilakukan untuk membantu pengidap guna menghadapi ketakutannya.
  • Hipnoterapi. Langkah ini dilakukan dengan memasuki alam bawah sadar seseorang, lalu memberikan sugesti guna membantu proses penyembuhan. Cara ini dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan.
  • Obat-obatan. Dokter akan memberikan obat antikecemasan dan antidepresan guna meredakan gejala saat melakukan terapi. Dosisnya penggunaannya akan menyesuaikan dengan tingkat keparahan gejala.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *