Kegagalan dalam Eksperimen Milgram: Membongkar Ketidakadilan dalam Nama Ilmu Pengetahuan

Eksperimen Milgram adalah salah satu eksperimen psikologis yang paling kontroversial dan kontemporer dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Dilakukan oleh Stanley Milgram pada awal 1960-an, eksperimen ini bertujuan untuk memahami sejauh mana seseorang akan pergi dalam mentaati otoritas, bahkan ketika tindakan itu bertentangan dengan moral atau etika pribadi. Walaupun eksperimen ini memberikan wawasan berharga tentang sifat perilaku manusia, terdapat banyak kegagalan dalam eksperimen ini yang menunjukkan ketidakadilan dan pengabaian terhadap etika penelitian.

Eksperimen Milgram: Dasar dan Tujuan

Stanley Milgram, seorang psikolog sosial dari Yale University, memulai eksperimen ini pada tahun 1961, hanya beberapa tahun setelah pengadilan Nuremberg yang mengungkapkan kejahatan perang Nazi selama Perang Dunia II. Tujuannya adalah untuk menyelidiki apakah individu biasa bersedia mengorbankan moralitas pribadi mereka saat diperintahkan oleh otoritas. Milgram terinspirasi oleh kasus Adolf Eichmann, seorang birokrat Nazi yang mempertanggungjawabkan perannya dalam Holocaust dengan mengklaim bahwa dia hanya menjalankan perintah.

Dalam eksperimennya, Milgram mengatur situasi di mana subjek penelitian (guru) diberi peran sebagai penyiksa yang harus memberikan ‘hukuman’ listrik kepada peserta lain (pelajar) setiap kali mereka menjawab pertanyaan salah. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa tidak ada listrik yang diberikan, dan pelajar adalah aktor yang bekerja sama dengan peneliti. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana guru bersedia mengikuti perintah untuk memberikan ‘hukuman’ meskipun mereka tahu itu salah.

Kegagalan #1: Ketidaknyamanan Subyek Penelitian

Dalam eksperimen Milgram, para subjek penelitian (guru) ditempatkan dalam situasi yang sangat stres dan memalukan. Mereka diberi tekanan kuat oleh eksperimenter untuk terus memberikan ‘hukuman’ meskipun mereka merasa tidak nyaman. Ini menciptakan ketidaknyamanan yang signifikan bagi subjek penelitian yang seharusnya dilindungi. Pada beberapa titik, beberapa subjek menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang serius, seperti berkeringat, gemetar, dan bahkan menangis. Tindakan ini adalah pelanggaran serius terhadap etika penelitian yang mengharuskan perlindungan subjek penelitian.

Kegagalan #2: Penipuan Terhadap Subjek Penelitian

Salah satu kegagalan paling jelas dalam eksperimen ini adalah penggunaan penipuan terhadap subjek penelitian. Mereka diinformasikan bahwa eksperimen ini adalah tentang memahami belajar dan memori, sementara sebenarnya eksperimen ini berfokus pada ketaatan terhadap otoritas dan perilaku etis. Ini adalah pelanggaran etika penelitian yang serius karena subjek penelitian tidak diberi informasi yang memadai tentang tujuan sebenarnya dari eksperimen.

Selain itu, subjek penelitian mungkin mengalami trauma psikologis setelah mengetahui bahwa mereka telah ‘menghukum’ seseorang dengan ‘arus listrik’, meskipun itu hanya sebuah ilusi. Hal ini menciptakan ketidaknyamanan psikologis yang tidak diinginkan dan mungkin memengaruhi subjek penelitian dalam jangka panjang.

Kegagalan #3: Tidak Ada Perlindungan Subjek Penelitian

Eksperimen Milgram tidak memberikan perlindungan yang cukup kepada subjek penelitian. Mereka dibiarkan terus menderita dan merasa bersalah tanpa perasaan aman yang memadai. Peneliti memiliki kewajiban etis untuk melindungi subjek penelitian dari bahaya fisik dan psikologis yang mungkin timbul akibat eksperimen. Kegagalan ini menunjukkan pengabaian serius terhadap etika penelitian dan kepentingan subjek penelitian.

Kegagalan #4: Kaitan dengan Etika Penelitian

Eksperimen Milgram telah menghadapi kritik yang keras terkait etika penelitian. Penelitian psikologis harus mematuhi pedoman etika yang ketat, termasuk mendapatkan izin tertulis dari subjek penelitian dan memberikan informasi yang memadai tentang eksperimen. Eksperimen ini tidak memenuhi standar etika penelitian yang tinggi. Pada kenyataannya, eksperimen ini mungkin tidak akan disetujui jika diajukan untuk tinjauan etika sekarang.

Kegagalan #5: Implikasi Sosial dan Psikologis

Meskipun eksperimen ini telah memberikan pemahaman yang berharga tentang sejauh mana seseorang bersedia mentaati otoritas, eksperimen ini juga memiliki implikasi sosial dan psikologis yang signifikan. Menyatakan bahwa individu cenderung mengabaikan moralitas mereka sendiri saat diperintah oleh otoritas dapat menciptakan ketidakpercayaan terhadap otoritas, terutama di masa-masa ketidakstabilan politik atau sosial.

Kegagalan dalam menjaga etika penelitian dalam eksperimen ini juga menciptakan ketidakpercayaan terhadap ilmu pengetahuan dan peneliti. Ini dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap penelitian ilmiah dan integritas peneliti.

Kesimpulan

Eksperimen Milgram telah memberikan pemahaman yang berharga tentang perilaku manusia dalam konteks ketaatan terhadap otoritas. Namun, eksperimen ini juga memiliki banyak kegagalan dalam hal etika penelitian dan perlindungan subjek penelitian. Penggunaan penipuan, ketidaknyamanan subjek penelitian, dan implikasi sosial yang kompleks adalah contoh-contoh konkret dari ketidakadilan dalam eksperimen ini. Eksperimen Milgram tetap menjadi studi yang kontroversial dan kontemporer dalam psikologi, dan menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga etika penelitian dan kesejahteraan subjek penelitian dalam penelitian ilmiah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *